Kamis, 03 Februari 2011

PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA

Krisis nilai tukar telah menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah yang merosot tajam sejak bulan Juli 1997 menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam triwulan ketiga dan triwulan keempat menurun menjadi 2,45 persen dan 1,37 persen. Pada triwulan pertama dan triwulan kedua tahun 1997 tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8,46 persen dan 6,77 persen. Pada triwulan I tahun 1998 tercatat pertumbuhan negatif sebesar -6,21 persen.
Merosotnya pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari masalah kondisi usaha sektor swasta yang makin melambat kinerjanya. Kelambatan ini terjadi antara lain karena sulitnya memperoleh bahan baku impor yang terkait dengan tidak diterimanya LC Indonesia dan beban pembayaran hutang luar negeri yang semakin membengkak sejalan dengan melemahnya rupiah serta semakin tingginya tingkat bunga bank. Kerusuhan yang melanda beberapa kota dalam bulan Mei 1998 diperkirakan akan semakin melambatkan kinerja swasta yang pada giliran selanjutnya menurunkan lebih lanjut pertumbuhan ekonomi, khususnya pada triwulan kedua tahun 1998. (grafik 1)
alt
Sementara itu perkembangan ekspor pada bulan Maret 1998 menunjukkan pertumbuhan ekspor nonmigas yang menggembirakan yaitu sekitar 16 persen. Laju pertumbuhan ini dicapai berkat harga komoditi ekspor yang makin kompetitif dengan merosotnya nilai rupiah. Peningkatan ini turut menyebabkan surplus perdagangan melonjak menjadi 1,97 miliar dollar AS dibandingkan dengan 206,1 juta dollar AS pada bulan Maret tahun 1997. Impor yang menurun tajam merupakan faktor lain terciptanya surplus tersebut. Impor pada bulan Maret 1998 turun sebesar 38 persen sejalan dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi.

IMF Memuji Ekonomi Indonesia

VIVAnews - Dana Moneter Internasional (IMF) memuji ekonomi Indonesia. Di tengah krisis pangan yang melanda dunia, pertumbuhan Indonesia diperkirakan masih akan di atas 6 persen pada tahun ini.

Direktur IMF Dominique Strauss Kahn mengatakan Indonesia menghadapi problem yang sama dengan negara lain yaitu krisis pangan dan harga energi. Secara global, Strauss berpandangan kondisi ekonomi Indonesia cukup baik. Namun kenaikan harga makanan, energi, akan mempengaruhi pertumbuhan pada 2011.
"Saya memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan lebih dari 6 persen," ujarnya seusai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor presiden di Jakarta, Rabu, 2 Februari 2011.

Ia juga tidak mempersoalkan defisit anggaran sebesar 1,8 persen. "Saya senang jika banyak negara di dunia defisitnya mencapai 1,8 persen. Ini alasan yang masuk akal dan membantu investasi dan pembangunan negara," ujarnya.

Sementara terkait dengan harga minyak dunia, Strauss menjelaskan masalah yang terjadi di pasar minyak dikarenakan krisis Mesir dan masalah di Terusan Suez. Ia tidak percaya masalah ini akan berlangsung panjang.

Sementara terkait dengan datangnya IMF, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan meski Indonesia anggota masih anggota IMF, namun Indonesia tidak berniat untuk meminta bantuan utang. (hs)
• VIVAnews